Autobiografi Devita Indah Paramita
Perjalanan Devita Indah Paramita
Nama saya adalah Devita Indah Paramita, saya lebih akrab disapa Devita oleh teman-teman, meski bagi orang tua dan keluarga terdekat, saya akan selalu menjadi si kecil Pita. Saya lahir di Sleman pada 22 Januari 2006, saya tumbuh dalam dinamika unik sebagai seorang anak tengah. Saya menjalani hari di antara kehadiran seorang kakak laki-laki yang sepuluh tahun lebih tua dan seorang adik perempuan yang lima tahun lebih muda, menjadikan saya penengah yang tangguh dalam keluarga.
Masa kecil saya dihabiskan dengan menghirup udara segar di Desa Kergan, sebuah sudut di ujung timur Yogyakarta yang bersentuhan langsung dengan perbatasan Klaten. Di sana, alam adalah taman bermain terbaik saya. Alih-alih terkurung di dalam rumah, saat saya masih kecil lebih sering ditemukan sedang berpetualang di hamparan sawah atau bermain air di jernihnya sungai. Saya adalah pecinta permainan tradisional yang penuh keceriaan, mulai dari serunya strategi dalam gobak sodor, ketangkasan bermain petak umpet, hingga tawa saat bermain engklek dan lompat tali bersama teman-teman.
Begitu besarnya kecintaan saya terhadap alam dan eksplorasi, saya sempat memiliki impian yang sangat ikonik bagi anak-anak seusia saya kala itu. Dengan semangat yang berapi-api, saya bercita-cita ingin menjadi seorang Bolang atau Bocah Petualang. Bagi saya, tidak ada hal yang lebih keren daripada berpetualang, memanjat pohon, menangkap ikan, dan melihat wajah saya muncul di layar televisi Trans 7 sebagai petualang cilik sejati.
Langkah Pertama Di Gerbang Sekolah
Pendidikan pertama saya dimulai di TK Pertiwi Caturharjo, sebuah masa yang didominasi oleh keceriaan. Karena sepupu sebaya saya bersekolah di tempat yang sama, saya terbiasa berangkat bersama bulik yang setia mengantar. Meski detail harian mulai memudar, ingatan saya melekat kuat pada semangat latihan drumband, serunya lomba menari, serta kebahagiaan sederhana saat bermain dan menikmati jajanan sekolah bersama teman-teman. Namun saat saya melangkah ke SD Negeri Pucung ini merupakan fase yang penuh kemandirian sekaligus perjuangan emosional. Karena jaraknya yang dekat dengan rumah dan kesibukan orang tua dalam bekerja, saya terbiasa mengayuh sepeda bersama teman-teman. Kenangan di sekolah ini jauh dari kata indah, perundungan yang saya alami menciptakan luka mendalam yang membuat masa-masa itu enggan untuk dikenang kembali.
Di tengah kelamnya pengalaman dibully, muncul sosok Bu Uswatun Hasanah, guru Agama Islam yang menjadi pelindung sekaligus ketenangan dan ketulusan bagi saya. Beliau adalah satu-satunya orang yang memberikan limpahan kasih sayang dan perhatian di saat lingkungan sekolah terasa tidak ramah. Beban hidup saya saat itu pun semakin berat dengan jadwal berbagai les yang sangat padat, hingga sering kali saya memilih untuk membolos demi merebut kembali hak bermain yang terampas. Momen pemberontakan kecil itu menjadi cara saya bertahan di tengah tekanan sosial dan akademis yang menghimpit.
Fokus Pada Harapan Baru
Setelah melewati tahun-tahun yang berat di SD Negeri Pucung, kelulusan terasa seperti gerbang menuju kebebasan. Saya melangkah ke SMP Negeri 2 Ngemplak dengan satu harapan besar, menemukan lingkungan yang lebih menghargai saya dan meninggalkan bayang-bayang perundungan di belakang. Masa-masa SMP memang jauh lebih suportif, meski kebersamaan itu sempat terpotong pandemi COVID-19. Di ambang kelulusan SMP, saya memikul amanah besar yaitu mewujudkan cita-cita menjadi guru, impian Ibu yang sempat kandas. Awalnya, saya membidik SMA Negeri 1 Ngemplak demi mendalami Sastra Indonesia seperti jejak kakak Sastra Inggris, namun kendala nilai memaksa saya banting stir ke SMK Negeri 1 Kalasan.
Saya memilih jurusan Kriya Tekstil karena profesi Ibu sebagai penjahit, sekolah ini semula tidak pernah ada dalam rencana masa depan saya. Namun, takdir berkata lain, SMK Negeri 1 Kalasan justru menjadi tempat saya menemukan kebahagiaan sejati yang belum pernah dirasakan di sekolah-sekolah sebelumnya. Apa yang dimulai sebagai rencana cadangan, ternyata menjadi ruang tempat saya benar-benar merasa menemukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri seutuhnya. Di SMK Negeri 1 Kalasan, saya menemukan lingkungan yang luar biasa suportif, di mana guru dan teman-teman menghargai saya sepenuhnya tanpa pernah meremehkan fisik saya yang kecil. Penerimaan tulus ini membangkitkan keberanian saya untuk menunjukkan jati diri, hingga saya dipercaya menjadi pemimpin upacara dan menjabat sebagai ketua kelas dari kelas 10 sampai lulus. Masa SMK pun menjadi puncak kebahagiaan yang lengkap, menyatukan prestasi kepemimpinan dengan indahnya asmara dan pertemanan yang tulus.
Fokus Pada Lembaran Baru Yang Lebih Luas
Kebahagiaan dan penerimaan yang saya temukan di masa SMK menjadi bahan bakar utama untuk mengejar gerbang universitas yang selama ini saya impikan. Saya menyadari bahwa keterbatasan fisik bukan lagi penghalang, melainkan keunikan yang akan saya bawa saat melangkah masuk ke kampus, demi mewujudkan janji dan cita-cita yang telah lama bersemi. 2025 adalah tahun saya lulus SMK dan tahun di mana saya di terima Universitas Negeri Yogyakarta jalur SNBP Prodi Pendidikan Kriya, ini seperti mimpi saya di terima kampus impian saya dengan jalur SNBP, walaupun tidak di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia tetapi yang terpenting saya di Universitas Negeri Yogyakarta dengan cita-cita yang sama yaitu menjadi seorang guru.
Sepuluh tahun ke depan, saya adalah guru PNS di SMK Negeri 1 Kalasan, sekaligus pemilik butik estetik dengan brand sendiri yang memiliki banyak karyawan. Melalui kesuksesan ini, saya mengangkat derajat orang tua, suami serta mertua, dan memastikan keturunan saya mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari yang pernah saya rasakan. Di balik semua pencapaian itu, prinsip saya tetap teguh: Jadilah sosok guru yang pernah kamu butuhkan saat kecil, pelindung bagi yang terabaikan dan penyulut api bagi mereka yang belum berani menunjukkan jati diri. Ukuran fisik atau masa lalu yang pahit tidak menentukan masa depan kita. Karena ketika takut akan sesuatu, pelajarilah hal itu sebanyak mungkin, karena pengetahuan memanglah rasa takut. Oleh karena itu, jangan pernah dengarkan kata orang lain fokus pada tujuan utama. Sebab rencana yang berbelok bukan berarti kegagalan, terkadang jalan alternatif justru membawa kita ke tempat yang lebih membahagiakan daripada tujuan awal.
Komentar
Posting Komentar